This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 26 Juli 2011

FR Trip to Dieng, Abode of the Gods

Dataran tinggi dieng, berlokasi di ketinggian +2000 mdpl menjadikannya sebagai dataran tertinggi di pulau jawa. Berita tentang status Dieng yang ga aman ga menyurutkan gw buat trip kesana. Akhirnya awal Juni lalu gw bersama 33 orang kaskuser mendapat kesempatan untuk melakukan trip kesana.

Sesuai dengan itinerary yg dibuat Ratri mengharuskan rombongan berkumpul di terminal mendolo Wonosobo Jumat jam 6 pagi, akhirnya gw berangkat dari surabaya menggunakan bus patas EKA tujuan magelang. Dengan estimasi perjalanan 10 jam gw berharap sampai di magelang tepat jam 4, akhirnya gw berangkat dari terminal Bungurasih Surabaya tepat jam 6 sore dengan jalur Surabaya - Jombang - Solo - Jogja - Magelang. Setelah transit di Ngawi untuk mendapat service makan, gw langsung tidur. Tapi baru sekitar 2 jam tidur gw bangun jam 12 dan gw nengok di jendela ternyata gw udah nyampe Solo. Wah ini mah terlalu cepat diluar perkiraan. Setelah melanjutkan tidur lagi akhirnya jam 2.15 gw nyampe di terminal magelang. Sepi, ga ada siapapun kecuali beberapa tukang ojek nunggu penumpang yang baru turun dari bis. Sampe Magelang, gw bingung mau ngapain. Ini diluar prediksi gw, mana ga ada angkutan apapun saat itu. Sempat ngobrol sama tukang ojek, gw ditawarin ojek sampe pertigaan Secang buat nunggu bis dari Semarang ke Wonosobo dengan tarif 30ribu. Yang bener aja ke Secang 30ribu, akhirnya gw mutusin buat nunggu sampe bis pertama berangkat dari Magelang.

Setelah menunggu lama, akhirnya ada bis yang berangkat ke Wonosobo jam 4.30 dengan jalur Magelang - Secang - Temanggung - Kertek - Wonosobo. Sepanjang perjalanan bis sering berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang penduduk lokal yg mulai beraktifitas pagi itu. Bis melewati hamparan kebun dan sawah penduduk, jalur semakin menanjak di jalanan yang diapit Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Setelah melewati hamparan kebun teh, akhirnya bis tiba di Terminal Mendolo Wonosobo jam 6.10. Sampai disana langsung telpon rombongan yang berangkat dari jakarta dan ternyata belum sampai. Akhirnya sambil menunggu rombongan Jakarta dan Bandung gw sarapan di angkringan dalam terminal. Menu sepesial buat gw karena belum pernah nyoba sebelumnya. Tempe kemul dengan irisan daun kucai dan cabe ditambah segelas teh panas terasa enak di pagi yang dingin itu.

Setengah jam nunggu akhirnya rombongan Jakarta dan Bandung nyampe di terminal. Setelah pesan tiket pulang akhirnya kami menuju jemputan berupa 2 bis yang udah dicarter khusus buat 34 orang peserta trip ini. Akhirnya perjalanan dimulai! Sepanjang jalan menuju dataran tinggi Dieng kami disuguhi pemandangan berupa perkebunan kentang milik penduduk lokal. Sekitar sejam lebih perjalanan akhirnya tiba di Homestay Bu Jono. Recommend buat kalian yg mau ke Dieng. Sampai Homestay kami langsung pesan makanan, briefing singkat dengan guide kami Pak Didik lalu pembagian kamar dan saatnya istirahat.

Sial, gw yg sekamar sama Yudha dan Andi ketiduran dan ketinggalan buat ikutan trip siang ini. Akhirnya atas petunjuk pemilik homestay gw bertiga jalan jalan sendiri ke Kawah Sileri. Menurut pemilik homestay, tarif ojek kesana 7ribu. Akhirnya kami naik ojek menuju kawah dan gw bayar dengan uang pas 7ribu. Ternyata si Yudha dan Andi bayar pake uang 20ribu, jadilah mereka dikadalin ama tukang ojek bayar 15ribu perorang. Tapi semua itu masih ga sebanding dengan pemandangan yang kami dapat. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dengan kawah yang masih mengeluarkan asap putih. Puas menikmati bentang alam Kawah Sileri kami meemutuskan buat balik ke homestay. Jalan kaki ternyata jauh banget. Akhirnya kami istirahat di kolam pemancingan dan wahana air yang mungkin jadi tempat rekreasi untuk penduduk lokal. Setelah beristirahat kami kembali melanjutkan perjalanan. Kebetulan ada mobil bak terbuka yang melintas dan akhirnya kami diizinkan untung menumpang sampai ke homestay. Tiba di homestay kami kembali beristirahat sambil menikmati kopi ditengah dinginnya temperatur siang itu.

"Mereka lagi di air terjun nih, sekarang mau ke telaga merdada" begitulah kata pemilik homestay yang coba menghubungi rombongan yang meninggalkan kami ke air  terjun. Akhirnya kami putuskan menuju telaga merdada dengan menggunakan ojek lagi. Ga mau ditipu 2x akhirnya kesepakatan bayar di awal 7ribu. Akhirnya kami sampai di telaga merdada dan sudah ada rombongan yang naik bis carteran disana. Lagi lagi kami dimanjakan dengan indahnya panorama telaga merdada dan pemandangan alam di sekitarnya. Gw cuma bisa mengagumi dengan memuji Sang Pencipta yang menghamparkan pemandangan indah ini. Setelah dirasa puas, akhirnya kami pulang menuju homestay dengan bis carteran tadi. Sampai homestay kami langsung memesan makan malam yang terlalu dini, masih jam setengah 6. Lalu setelah makan kami istirahat di kamar masing masing.

Waktu menunjukkan jam 19.30, teman teman udah banyak yang berkumpul di depan kamar bawah. Agenda kita kali ini ialah wisata malam membeli oleh oleh. Kami diarahkan menuju rumah salah satu warga yang berjarak 250 meter dari homestay. Disana kami disuguhkan camilan khas Dieng berupa Keripik kentang, Carica dan Purwaceng yang merupakan minuman herbal khas Dieng. Disana kami mengakrabkan diri dengan saling berbagi cerita mengenai perjalanan siang tadi ditemani dengan keripik, carica dan purwaceng. Setelah selesai bercerita kami pun membeli berbagai camilan yang tadi kami nikmati untuk oleh-oleh. Kemudian kamipun pulang menuju homestay untuk beristirahat menyiapkan energi untuk esok pagi.

Deringan alarm dari HP mambangunkanku dalam gumpalan selimut hangat. Sudah jam 3.30 rupanya, masih setengah jam sebelum berangkat buat catch sunrise. Si Yudha dan Andi udah bangun duluan. Dengan malas malasan gw keluar dari gumpalan selimut tadi menuju kamar  mandi untuk cuci muka. Setelah cuci muka gw bertiga keluar kamar dan ternyata baru kami bertiga aja yang keluar kamar. Sambil duduk duduk gw nyeduh teh yg tersedia di sebelah pintu buat menghangatkan badan. Termometer di dinding menunjukkan suhu 10 derajat celcius, pantesan gw berasa kaya dimasukin dalem kulkas. Akhirnya satu persatu teman teman yang lain keluar kamar dan bersiap untuk catch sunrise. Akhirnya kami berangkat jam 4.20 menggunakan bis yang kami carter. Setelah singgah untuk shalat subuh, kami akhirnya sampai dan parkir di pos bukit sikunir. Dari sana kami melanjutkan perjalanan dengan trekking menuju spot terbaik untuk melihat sunset. Medan trekking yang agak curam dan basah karena embun itu kami lalui dan rombongan terpisah di 3 spot untuk melihat sunrise pagi itu. Sungguh indah pemandangan dari atas bukit itu, matahari muncul di sisi Gunung Sindoro. Beberapa orang mengabadikan momen itu. Kemudian setelahnya kami kembali ke tempat bis parkir dan melanjutkan perjalanan menuju kawah sikidang.

Perjalanan menuju sikidang ditempuh dalam 15 menit. Sesampainya disana kami pun menikmati panorama alam disekitar kawah berwarna putih. Tak lupa juga beberapa orang mengabadikan momen momen disana dalam foto. Kawah ini diberi nama sikidang karena konon lokasi kawah selalu berpindah-pindah seperti anak kijang (kidang). Puas menikmati kawah, kami bersantai di warung warung di sisi tempat parkir sambil ngobrol dan menikmati hangatnya kopi dan purwaceng. Beberapa orang yang semalam belum puas belanja juga ada yang membeli oleh oleh. Setelah itu kami pun pulang menuju homestay untuk sarapan.

Nasi goreng yang disediakan telah habis kami lahap, saatnya kembali menjelajah keindahan Dieng. Perjalanan dilanjutkan menuju telaga warna dengan waktu tempuh 5 menit dari homestay. Sesi foto pun kembali digelar rombongan kami di pinggir telaga. Pak Didik, guide kami menyarankan untuk menikmati telaga dari atas bukit yang menurutnya bisa dicapai dengan 10menit berjalan kaki. Pada kenyataanya perjalanan memakan waktu 30 menit dan hanya sebagian kecil dari kami yang mau naik ke atas bukit tanpa Pak Didik. Pemandangan dari atas sini seolah membayar perjuangan kami untuk mendaki. Kami kembali takjub dengan keindahan ini. Setelah menikmati panorama dari atas bukit, kami pun kembali turun dan bergabung dengan yang tidak ikut mendaki. Setelah dirasa lengkap, kami melanjutkan perjalanan menuju Dieng Plateau Theatre.

Dieng Plateau Theatre atau yang disingkat DPT ini merupaka tempat diputarkannya film dokumenter tentang potensi pariwisata di Dataran Tinggi Dieng. Di DPT ini dijelaskan sejarah Dieng, budaya masyarakat, bentang alam serta bencana yang pernah melanda Dieng. Selesai film diputar, kami melanjutkan dengan berfoto di sekitar gedung DPT yang memiliki pemandangan sangat indah. Baru setelahnya kami menuju kompleks candi dieng.

Sampailah kami di kompleks candi dengan 10 menit perjalanan dari DPT. Kompleks candi ini dinamakan berdasarkan tokoh tokoh wayang seperti kompleks candi bima dan arjuna. Di kompleks candi arjuna kami melihat lihat dan berkeliling sambil berfoto. Disana banyak penjual edelweis yang menawarkan dagangannya pada kami dan beberapa orang pun ada yang tertarik. Puas mengagumi megahnya candi - candi disana, kamipun langsung menuju homestay untuk bersih bersih dan packing persiapan pulang ke kota masing masing.

Tepat jam 1 siang kami meninggalkan homestay dan kembali menuju meeting point awal di terminal mendolo Wonosobo. Tapi sebelumnya kami singgah untuk menikmati penganan khas Wonosobo yaitu mie ongklok. "Belum ke Wonosobo rasanya kalau belum coba mie ongklok" kata guide kami. Setelah dimanjakan kuliner khas tersebut kami melanjutkan perjalanan ke terminal. Disana kami berpamitan satu sama lain lalu menuju bis yang akan membawa kami menuju kota masing masing. Akhirnya gw naik bis P.O. Handoyo langsung tujuan surabaya dengan pertimbangan gw udah terlalu capek kalau harus nyambung bis lagi. Alhamdulillah tiba selamat di Bungurasih tepat saat azan subuh berkumandang.

Ga lengkap rasanya kalo FR tanpa foto. Selanjutnya biar gambar yang "berbicara"

briefing dengan Pak Didik

Penginapan Bu Jono

Para penunggu Bis

Kaskus at Telaga Merdada

Belanja oleh-oleh, nyicipin dulu

Kemasan Purwaceng

Sunrise at Sikunir (1)

Sunrise at Sikunir (2)

Kawah Sikidang

Gate of Telaga Warna

Kompleks Candi Arjuna

Mie Ongklok, kuliner khas Wonosobo

Dieng Tourism Map

Ini dia tunggangan kami selama di Dieng


Rincian Biaya dari Surabaya:

Bis Patas Surabaya-Magelang = 72000
Bis Magelang-Wonosobo = 15000
Sharing Cost homestay, bus, dll = 195000
Ojek = 2x7000
Bis Wonosobo-Surabaya = 100000

TOTAL = 389000

Kamis, 12 Mei 2011

Mimpi, keyakinan dan harapan

Mimpiku, seolah tak pernah mati mimpi mimpi yang dulu pernah kutiupkan kedalam batinku. belum sempat aku terbangun dari tidurku, mimpi lain muncul. merasuk begitu saja dalam pikiranku. seperti  debu diterbangkan angin yang tak pernah berhenti bergerak menerbangkan asa, jauh kedalam angan angan lalu limbung diterpa badai hidup yang menerjang. Kemudian mimpi itu jatuh di permukaan samudera, tenggelam hingga palung hati terdalam. Nyaris tanpa bekas!

Kini mimpi itu muncul kembali. Bukan dalam bentuk debu yang dulu telah lenyap di samudera. Mimpi itu kembali hidup, kali ini dalam bentuk yang berbeda. Menggumpal menjadi sekeping keyakinan yang ingin mencapai kepingan mimpi yang lain. Kemudian bersama kepingan kepingan itu, keyakinanku akan membentuk kesejahteraan bernama sukses.

Bangunlah! Kini mimpi-mimpi itu ada didepan untuk kukejar. Semakin ku beranjak dari tempatku ini, semakin dekat aku ke mimpi itu. Aku menemukan bongkahan lain dari keyakinanku pada jejak mimpi itu. Semakin banyak kumpulan keyakinan yang kudapat, semakin dekat aku dengan mimpi itu. Ternyata tidak mudah untuk menelusuri jejak mimpiku. Di depanku kini terdapat sebuah labirin kehidupan yang bisa saja menyesatkanku menjauhi mimpi itu. Kepingan keyakinan yang ku kumpulkan membisikkan sesuatu dalam hidpuku. “Masuklah dalam labirin itu, temukan jalan untuk mencapai mimpimu”

Baru saja aku masuki labirin itu, aku dikejutkan oleh gelapnya kehidupan. Tanpa pencahayaan dan tanpa penuntun, tapi aku masih memiliki keyakinan yang setia menemaniku berjalan perlahan sambil meraba raba masa depan. Belum seberapa jauh aku melangkah aku melihat sepercik cahaya di ujung jalan yang gelap ini. Ternyata segerombolan kunang kunang. Aku mengikutinya kemana ia terbang. Aku tak mau limbung ditengah gelap yang memayungi kehidupan. Ternyata gerombolan hewan itu membawaku masuk jauh lebih dalam pada gelap yang makin mencekam. Kelompok kunang kunang itu tiba tiba lenyap entah kemana meninggalkanku sendiri dalam pekatnya gelap.

Aku beranjak coba mencari arahku. Setidaknya keyakinan masih bersamaku. Aku tak bisa melihat apapun, hanya meraba  raba apa yang menjadi masa depanku. Karena dibutakan gelap, aku tak melihat adanya jurang yang menyebabkan perbedaan hidup. Aku terjatuh dengan keras hingga kehilangan kesadaran. Setelah terbangun, aku mendapati sebatang lilin yang menyala redup. Kujadikannya lilin itu sebagai pelita yang akan menerangi jalanku pada labirin kehidupan ini.

Tak terasa lilin penerangku hampir habis. Aku masih kelimpungan dalam jurang yang memisahkanku dengan mimpiku. Dan akhirnya pelitaku redup. Sekali lagi aku masih menggenggam keyakinanku erat.Ternyata masih ada jalan. Setitik sinar harapan kini ada di depanku. Semoga cahaya itu bisa membimbingku pada sang mimpi. Aku sudah lelah menghadapi batu karang yang menghalangi sampanku mencapai mimpi. Inikah jalan yang akan kutempuh sekarang untuk mencapi mimpiku? Dengan memantapkan hati dan keyakinan yang kegenggam ini aku putuskan untuk menuju cahaya harapan itu. Semoga mimpiku ada dan bersemayam disana. Mungkinkah..??

Senin, 11 April 2011

19 tahun, sebuah harapan

Hari ini akan segera berganti. Senin 11 april 2011. Tepat 19 tahun aku dilahirkan di dunia. Ada yang beda hari ini, tidak biasanya aku sedih saat berulang tahun. Tapi sekarang aku benar benar mengalaminya. Itu karena kedua orangtuaku tidak bersamaku, terpisah ratusan kilometer jarak. Aku mengingat ngingat apa yang telah aku berikan pada mereka? Tidak ada. Justru aku menyusahkan mereka. Aku telah melakukan kebohongan pada mereka. Aku sangat berdosa pada mereka. Ya ALLAH lindungilah mereka dalam setiap tindakannya, berkahilah apa yang mereka lakukan, ampunilah dosaku dan dosa mereka, sayangi mereka seperti dulu mereka menyayangiku sejak aku kecil hingga kini. Engkaulah yang maha penyayang dan maha mengetahui apa yang ada dalam hati

Kamis, 07 April 2011

Masih Ingat Kandungan Pancasila?

Pancasila, mungkin banyak orang di republik ini yang udah ga memaknainya lagi. Padahal didalamnya terdapat dasar sebuah negara.


Ketuhanan yang maha esa
Maknanya tiap orang berhak memilih agama sesuai yang dipercayainya sesuai UUD 1945 pasal 26 dan saling bertoleransi antar umat beragama


    tapi coba lihat ini:



    Apa itu nilai yang terkandung dalam sila pertama?


Kemanusiaan yang adil dan beradab
Maknanya setiap warga negara memiliki kesetaraan hak yang berdasarkan kemanusiaan


    bandingkan dua gambar ini:
    

   Itukah nilai dari kemanusiaan yang berasaskan keadilan?


Persatuan Indonesia
Maknanya Indonesia merupakan satu kesatuan yang utuh dan mengesampingkan perbedaan


   faktanya:

  
   Bangsa ini semakin tidak menghargai perbedaan dan cenderung melupakan Bhinneka tunggal Ika




Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Maknaynya setiap pencarian jalan keluar perlu suatu kebijaksanaan dalam suatu musyawarah


  tapi yang terjadi justru:


   Semua masalah dapat sekejap diselesaikan. Suatu "kebijaksanaan" marak terjadi di negeri ini


Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
Maknanya lagi lagi tentang keadilan, namun yang ini mengkhususkan pada status sosial


  seperti pada 2 gambar ini:

   Itukah yang disebut keadilan?




Semakin lama makin menunjukkan bahwa saat ini Indonesia hanya suatu Integrasi wilayah yang berorientasi pada daulat UANG, bukan Integrasi Ide dan Gagasan yang dulu diperjuangkan oleh cendekiawan Indonesia pada masa kebangkitan nasional.